Dari Onimusha hingga Sekiro: Bagaimana Game Samurai Berubah Sejak Era PlayStation 2?

Oktober 15, 2026 · Berita Retro Gaming, Nostalgia Rental PS2

Jauh sebelum Sekiro: Shadows Die Twice dikenal sebagai salah satu game aksi yang menuntut ketepatan timing, gamer PlayStation 2 sudah pernah berhadapan dengan pendekar pedang, iblis, dan pertarungan sengit melalui seri Onimusha.Bagi pemain yang tumbuh pada awal 2000-an, Onimusha menawarkan sesuatu yang berbeda dari game aksi lain. Alih-alih menggunakan senjata api atau bertarung melawan monster di dunia fantasi modern, pemain dibawa ke Jepang feodal yang dipenuhi konflik, kastel tua, dan makhluk supernatural bernama Genma.

Bertahun-tahun kemudian, Sekiro menghadirkan pengalaman yang sama-sama terinspirasi sejarah dan mitologi Jepang, tetapi dengan pendekatan pertarungan yang sangat berbeda. Pemain tidak cukup hanya menyerang dan menghindar. Mereka harus membaca gerakan lawan, menangkis serangan pada waktu yang tepat, dan memahami kapan pertahanan musuh dapat dihancurkan.

Meski keduanya sering masuk dalam pembicaraan mengenai game samurai, ada perbedaan penting: Onimusha terutama menampilkan pendekar pedang seperti Samanosuke Akechi, sedangkan Sekiro berpusat pada seorang shinobi bernama Wolf. Keduanya bukan satu genre yang sepenuhnya identik, tetapi justru perbedaan itulah yang membuat evolusi game aksi bertema Jepang menarik untuk ditelusuri.

Onimusha: Ketika Game Samurai Menjadi Pengalaman Baru di PlayStation 2

Capcom merilis Onimusha: Warlords untuk PlayStation 2 pada 2001. Game ini memperkenalkan Samanosuke Akechi, seorang pendekar yang berusaha menyelamatkan Putri Yuki dari ancaman Genma.

Sejak awal, Onimusha menggabungkan beberapa elemen yang sebelumnya sudah akrab bagi pemain Resident Evil: sudut kamera tetap, eksplorasi lingkungan, teka-teki, serta pengelolaan item.

Namun, perbedaan terbesarnya adalah pertarungan menggunakan senjata jarak dekat.

Pemain menghadapi musuh dengan pedang, menggunakan kemampuan khusus, dan menyerap jiwa yang dilepaskan musuh untuk mendukung perkembangan karakter.

Pada masa itu, kombinasi tersebut terasa unik. Onimusha bukan sekadar Resident Evil dengan pedang, karena ritme pertarungannya jauh lebih aktif dan agresif.

Meski demikian, akar desain survival horror tetap terlihat jelas dalam cara pemain menjelajahi kastel, memecahkan teka-teki, dan mengelola persediaan.

1. Pertarungan Onimusha Mengandalkan Posisi, Timing, dan Pengamatan

Jika dimainkan kembali sekarang, pertarungan Onimusha pertama mungkin terasa lebih kaku dibandingkan game aksi modern.

Namun, keterbatasan kontrol tersebut tidak berarti permainannya tidak memiliki kedalaman.

Pemain harus memperhatikan jarak, arah serangan, serta momen ketika musuh membuka pertahanan.

Salah satu mekanisme yang paling dikenang adalah Issen, serangan balik dengan timing yang tepat dan berpotensi memberikan kerusakan sangat besar.

Mekanisme ini memberi penghargaan kepada pemain yang berani mengambil risiko.

Menunggu serangan musuh lalu membalas pada saat yang tepat dapat menghasilkan kemenangan cepat. Sebaliknya, salah membaca gerakan bisa membuat karakter menerima serangan yang sebenarnya dapat dihindari.

Menariknya, prinsip tersebut masih relevan dalam banyak game aksi modern, termasuk Sekiro.

Perbedaannya terletak pada seberapa besar mekanisme timing menjadi pusat keseluruhan sistem pertarungan.

2. Onimusha 2 Membuat Dunia dan Karakternya Lebih Beragam

Onimusha 2: Samurai’s Destiny dirilis pada 2002 dan memperkenalkan protagonis baru, Jubei Yagyu.

Game ini memperluas sejumlah gagasan dari pendahulunya, termasuk interaksi dengan karakter pendukung serta sistem pertukaran hadiah yang dapat memengaruhi hubungan Jubei dengan mereka.

Bagi pemain PS2, fitur tersebut memberikan alasan untuk memperhatikan karakter lain di luar pertarungan utama.

Onimusha 2 juga mempertahankan perpaduan eksplorasi, teka-teki, dan aksi pedang yang menjadi identitas seri tersebut.

Ini memperlihatkan bahwa game aksi bertema samurai tidak harus sepenuhnya berfokus pada duel.

Hubungan karakter, misteri, dan atmosfer lokasi dapat menjadi bagian penting dari pengalaman bermain.

3. Onimusha 3 Membawa Samurai Jepang ke Paris

Onimusha 3: Demon Siege yang dirilis pada 2004 mengambil langkah lebih berani.

Selain kembali menghadirkan Samanosuke, game ini memperkenalkan Jacques Blanc, karakter yang diperankan oleh aktor Jean Reno.

Ceritanya menggunakan perjalanan waktu untuk menghubungkan Jepang pada masa Sengoku dengan Paris modern.

Perubahan tersebut membuat seri Onimusha tidak lagi terbatas pada satu periode atau lokasi.

Onimusha 3 juga menggunakan lingkungan tiga dimensi yang lebih dinamis dibandingkan pendekatan latar pada game sebelumnya.

Hasilnya adalah permainan yang terasa lebih sinematik tanpa sepenuhnya meninggalkan akar aksi dan petualangannya.

Bagi gamer PS2, perpaduan samurai Jepang dan kota Paris menjadi salah satu daya tarik yang sulit dilupakan.

4. Sekiro Mengubah Fokus dari Mengalahkan Musuh Menjadi Mematahkan Pertahanannya

Sekiro: Shadows Die Twice dirilis oleh FromSoftware pada 2019.

Permainan ini mengikuti Wolf, seorang shinobi yang bertugas melindungi Kuro, pewaris kekuatan misterius yang berkaitan dengan keabadian.

Berbeda dari Onimusha yang menggabungkan aksi dengan eksplorasi dan teka-teki klasik, Sekiro menempatkan duel sebagai pusat pengalaman.

Salah satu mekanisme terpenting adalah Posture.

Musuh tidak selalu harus dikalahkan dengan menghabiskan seluruh Vitality mereka. Pemain juga dapat menekan pertahanan lawan sampai Posture-nya runtuh, kemudian melakukan Deathblow.

Deflection atau tangkisan yang dilakukan pada waktu tepat menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Dengan demikian, pertarungan Sekiro memiliki ritme yang berbeda dari banyak game aksi tradisional.

Pemain tidak hanya mencari kesempatan untuk menyerang, tetapi juga harus aktif menghadapi serangan musuh agar tekanan terhadap Posture tetap terjaga.

5. Dari Issen Onimusha hingga Deflection Sekiro

Jika ada satu hubungan mekanis yang menarik antara Onimusha dan Sekiro, hubungan tersebut adalah pentingnya timing.

Dalam Onimusha, Issen memberikan hadiah besar kepada pemain yang berhasil melakukan serangan balik pada momen yang tepat.

Dalam Sekiro, deflection menjadi kemampuan yang harus terus digunakan sepanjang pertarungan.

Keduanya menuntut pengamatan terhadap animasi musuh, tetapi tujuan penggunaannya berbeda.

Issen dapat menjadi momen serangan penentu. Sementara itu, deflection di Sekiro merupakan bagian dari rangkaian tekanan yang terus dibangun untuk mematahkan Posture lawan.

Karena itulah pemain yang pernah menguasai Issen belum tentu langsung mahir memainkan Sekiro.

Pengalaman dari Onimusha mungkin membantu membentuk kebiasaan memperhatikan gerakan musuh, tetapi Sekiro menuntut penguasaan ritme yang lebih konsisten.

6. Perubahan Kamera Membuat Pertarungan Terasa Lebih Bebas

Game Onimusha awal menggunakan sudut kamera yang telah ditentukan pada banyak lokasi.

Pendekatan ini membantu pengembang mengatur atmosfer dan komposisi visual.

Koridor kastel dapat terlihat menyeramkan karena kamera sengaja ditempatkan untuk memperlihatkan area tertentu, sementara bagian lain tetap tersembunyi.

Namun, pendekatan tersebut juga memiliki keterbatasan ketika pemain ingin melihat lingkungan dari sudut berbeda.

Sekiro menggunakan kamera tiga dimensi yang mengikuti karakter dan dapat dikendalikan pemain.

Sistem ini mendukung pertarungan yang lebih dinamis, terutama ketika Wolf bergerak cepat, melompat, atau menggunakan grappling hook.

Meski demikian, kamera modern bukan tanpa masalah. Pertarungan di ruang sempit atau dekat dinding tetap dapat mengganggu pandangan pemain.

Perubahan teknologi memberi kebebasan lebih besar, tetapi desain kamera tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan pertarungan.

7. Sekiro Membuat Mobilitas Menjadi Bagian Penting dari Identitas Shinobi

Salah satu perbedaan paling jelas antara Onimusha dan Sekiro adalah cara karakter bergerak.

Onimusha lebih berfokus pada eksplorasi ruang dan pertarungan pedang dalam lingkungan yang relatif terbatas.

Sekiro memberikan kemampuan melompat, bergerak secara vertikal, menyelinap, dan menggunakan grappling hook untuk mencapai lokasi tertentu.

Mobilitas tersebut bukan hanya sarana berpindah tempat.

Ia memengaruhi cara pemain mendekati musuh.

Wolf dapat mencari posisi lebih tinggi, menghindari kelompok musuh, atau menggunakan stealth untuk mengurangi jumlah lawan sebelum pertarungan terbuka dimulai.

Pendekatan ini sesuai dengan identitas protagonisnya sebagai shinobi.

Karena itu, Sekiro bukan sekadar game samurai dengan sistem pertarungan lebih cepat. Desainnya dibangun di sekitar kemampuan dan peran karakter utama yang berbeda.

8. Dari Kastel Penuh Teka-Teki ke Dunia dengan Banyak Jalur

Eksplorasi Onimusha memiliki hubungan kuat dengan desain petualangan Capcom pada awal 2000-an.

Pemain mencari kunci, membuka akses ke ruangan baru, memecahkan teka-teki, dan kembali ke area sebelumnya setelah memperoleh item tertentu.

Struktur seperti ini membuat kastel terasa sebagai sebuah tempat yang harus dipahami secara bertahap.

Sekiro menawarkan lingkungan yang lebih luas dan saling terhubung.

Pemain dapat menemukan jalur alternatif, menggunakan ketinggian untuk melewati musuh, dan menjelajahi lokasi yang memiliki berbagai pendekatan.

Namun, Sekiro juga bukan game open world tanpa batas seperti Elden Ring.

Perjalanannya tetap memiliki struktur dan perkembangan cerita yang diarahkan.

Perbedaan tersebut menunjukkan perubahan dalam cara pengembang memberi kebebasan kepada pemain tanpa harus meninggalkan desain level yang terencana.

9. Musuh Onimusha dan Sekiro Menggunakan Filosofi Desain Berbeda

Musuh dalam Onimusha banyak terinspirasi dari monster supernatural Genma.

Desain mereka mendukung atmosfer horor fantasi yang menjadi ciri khas seri tersebut.

Di Sekiro, pemain menghadapi beragam lawan, mulai dari prajurit bersenjata hingga makhluk supernatural.

Namun, sebagian pertarungan paling berkesan justru terjadi ketika pemain menghadapi lawan yang juga menggunakan senjata dan teknik bertarung manusia.

Duel seperti itu menuntut pembacaan pola serangan yang sangat teliti.

Musuh tidak sekadar menjadi penghalang untuk dikalahkan, tetapi juga sarana menguji pemahaman pemain terhadap sistem pertarungan.

Ketika seorang boss terus menghukum kebiasaan menyerang sembarangan, pemain dipaksa mengubah pendekatan.

Inilah salah satu alasan kemenangan di Sekiro dapat terasa sangat memuaskan setelah berkali-kali gagal.

10. Mengapa Sekiro Terasa Lebih Sulit daripada Onimusha?

Tingkat kesulitan sebenarnya bergantung pada pengalaman dan kemampuan masing-masing pemain.

Namun, terdapat beberapa perbedaan desain yang menjelaskan mengapa Sekiro sering dianggap menuntut.

Pertama, Sekiro menempatkan deflection sebagai kemampuan inti yang harus dipelajari.

Kedua, pemain harus memahami beberapa jenis serangan berbahaya yang membutuhkan respons berbeda, seperti melompat, menghindar, atau menggunakan Mikiri Counter pada situasi yang sesuai.

Ketiga, pertarungan boss sering menuntut konsistensi selama beberapa fase.

Dalam Onimusha, pemain juga dapat mengalami kesulitan, terutama ketika berusaha menguasai Issen atau menghadapi musuh tertentu.

Namun, kedua game tidak menguji kemampuan pemain dengan cara yang sepenuhnya sama.

Onimusha memadukan tantangan pertarungan dengan eksplorasi dan pengelolaan sumber daya. Sekiro lebih kuat menekankan penguasaan mekanisme duel.

11. Perkembangan Cerita: Dari Samanosuke hingga Wolf

Ilustrasi perkembangan game aksi bertema samurai dan shinobi dari era PlayStation 2 hingga Sekiro
Perjalanan game aksi bertema Jepang dari era Onimusha hingga Sekiro memperlihatkan perubahan besar dalam sistem pertarungan, eksplorasi, dan desain karakter.

Seri Onimusha menggunakan tokoh dan latar yang terinspirasi sejarah Jepang, kemudian menggabungkannya dengan unsur fantasi supernatural.

Nama-nama seperti Nobunaga Oda memberikan kaitan dengan periode Sengoku, meskipun kejadian dalam permainan jelas bukan rekonstruksi sejarah yang sepenuhnya akurat.

Sekiro juga menggunakan latar Jepang era Sengoku yang dibumbui fantasi dan mitologi.

Namun, kisahnya memiliki penekanan emosional yang berbeda.

Hubungan Wolf dengan Kuro, kewajiban seorang shinobi, dan persoalan keabadian menjadi bagian penting dari konflik cerita.

Di balik pertarungan yang sulit, Sekiro menyimpan kisah mengenai kesetiaan, pengorbanan, dan konsekuensi ketika manusia berusaha melampaui batas kehidupan.

Jika ingin memahami sisi emosional tersebut lebih jauh, pembaca dapat membaca artikel Kisah Tragis Sekiro: Cerita Sedih di Balik Shadows Die Twice di GoodOldDaysFarm.com. Pembahasan ini relevan karena kekuatan Sekiro tidak hanya terletak pada tingkat kesulitan, tetapi juga pada konflik yang dihadapi karakter utamanya.

12. Apakah Game Samurai Modern Harus Meniru Sekiro?

Kesuksesan Sekiro tidak berarti seluruh game bertema samurai harus menggunakan sistem Posture dan deflection yang sama.

Game seperti Onimusha memiliki identitas berbeda.

Keunggulannya terletak pada perpaduan aksi pedang, atmosfer supernatural, eksplorasi, dan teka-teki.

Jika seluruh game samurai modern menggunakan formula Sekiro, pemain justru kehilangan variasi pengalaman.

Genre aksi bertema Jepang masih memiliki ruang untuk berbagai pendekatan, mulai dari petualangan sinematik hingga permainan yang berfokus pada stealth atau duel teknis.

Karena itu, perkembangan genre sebaiknya dilihat sebagai bertambahnya pilihan, bukan kewajiban mengikuti satu formula.

13. Mengapa Onimusha Masih Layak Dimainkan Sekarang?

Onimusha tetap menarik karena menawarkan pengalaman yang berbeda dari banyak game aksi modern.

Struktur levelnya lebih ringkas, teka-teki memiliki peran penting, dan pertarungan mengharuskan pemain memperhatikan posisi serta timing.

Game ini juga memiliki atmosfer yang kuat.

Perpaduan kastel Jepang, makhluk Genma, musik, dan desain karakter menciptakan identitas yang mudah dikenali.

Tentu saja, pemain baru mungkin perlu beradaptasi dengan sistem kontrol dan kamera dari era PS2.

Namun, memahami konteks teknologi saat game tersebut dibuat dapat membantu pemain menghargai keputusan desainnya.

Onimusha tidak harus dinilai menggunakan standar yang sama persis dengan Sekiro.

Keduanya lahir dari periode berbeda dan memiliki tujuan permainan yang berbeda pula.

14. Perbandingan Onimusha dan Sekiro

Aspek Onimusha Klasik Sekiro: Shadows Die Twice
Era populer PlayStation 2, awal 2000-an 2019, generasi PS4, Xbox One, dan PC
Pengembang Capcom FromSoftware
Karakter utama Samanosuke, Jubei, dan protagonis lain sesuai judul Wolf, seorang shinobi
Fokus pertarungan Serangan pedang, posisi, kemampuan khusus, dan Issen Deflection, Posture, Deathblow, dan teknik shinobi
Eksplorasi Area terstruktur dengan teka-teki dan item Lingkungan saling terhubung dengan mobilitas vertikal
Kamera Banyak area menggunakan sudut kamera tetap pada judul awal Kamera 3D yang mengikuti karakter
Unsur cerita Sejarah Jepang dan ancaman supernatural Genma Kesetiaan shinobi, konflik Sengoku, dan keabadian
Identitas gameplay Action adventure dengan unsur survival horror Action adventure yang menekankan penguasaan duel

15. Dari Rental PS2 hingga Komunitas Soulslike Modern

Perubahan game aksi juga berkaitan dengan perubahan kebiasaan pemain.

Pada era PS2, banyak gamer Indonesia mengenal game melalui rental, pinjaman kaset, atau rekomendasi teman.

Ketika menghadapi boss sulit di Onimusha, pemain mungkin bertanya kepada teman yang sudah pernah menamatkannya.

Beberapa pemain bahkan belajar hanya dengan menonton orang lain bermain.

Sekarang, pemain Sekiro dapat menemukan panduan, rekaman pertarungan, dan diskusi strategi melalui internet.

Namun, akses informasi yang lebih mudah tidak otomatis membuat permainan menjadi mudah.

Mengetahui cara melakukan deflection berbeda dengan mampu melakukannya secara konsisten.

Hal tersebut menunjukkan bahwa komunitas dapat membantu proses belajar, tetapi keterampilan tetap harus dikembangkan melalui pengalaman bermain.

Bagi pembaca yang ingin kembali mengenang game aksi era PS2, artikel mengapa Dynasty Warriors 5 masih seru dimainkan juga memperlihatkan bagaimana permainan bertema Tiga Kerajaan tetap memiliki daya tarik meskipun teknologi grafis telah berkembang jauh.

16. Apa yang Bisa Dipelajari Game Modern dari Onimusha?

Game modern memiliki keunggulan teknologi, tetapi bukan berarti seluruh pendekatan desain lama sudah tidak relevan.

Onimusha memperlihatkan beberapa prinsip yang masih dapat digunakan.

Identitas Visual Lebih Penting daripada Sekadar Realisme

Desain kastel, musuh Genma, dan suasana supernatural membuat Onimusha mudah dikenali.

Level Ringkas Bisa Tetap Menarik

Permainan tidak harus memiliki dunia sangat luas untuk menghadirkan eksplorasi yang memuaskan.

Pertarungan Sederhana Dapat Memiliki Kedalaman

Mekanisme seperti Issen menunjukkan bahwa satu keputusan timing dapat memberikan tantangan menarik.

Teka-Teki Dapat Memberikan Variasi Ritme

Eksplorasi dan pemecahan teka-teki membantu memberikan jeda di antara pertarungan.

Prinsip-prinsip tersebut tidak harus diterapkan pada setiap game, tetapi tetap menawarkan inspirasi bagi pengembang yang ingin menciptakan pengalaman berbeda.

17. Apakah Sekiro Merupakan Penerus Spiritual Onimusha?

Secara tema, keduanya memang memiliki beberapa kesamaan.

Onimusha dan Sekiro menggunakan inspirasi Jepang feodal, senjata tradisional, dan unsur supernatural.

Keduanya juga memberi penghargaan kepada pemain yang mampu memahami timing serangan.

Namun, kesamaan tersebut tidak cukup untuk menyebut Sekiro sebagai penerus spiritual resmi Onimusha.

Kedua permainan dibuat oleh pengembang berbeda, memiliki dunia cerita berbeda, dan menggunakan filosofi desain yang tidak sama.

Lebih tepat jika Sekiro dipandang sebagai salah satu contoh bagaimana game aksi bertema Jepang berkembang setelah era Onimusha.

Perbandingan ini berguna untuk memahami perubahan teknologi dan desain, bukan untuk menyatakan adanya hubungan langsung antara kedua seri.

Kesimpulan: Dari Onimusha hingga Sekiro, Game Samurai Terus Berevolusi

Perjalanan dari Onimusha pada era PlayStation 2 hingga Sekiro menunjukkan perubahan besar dalam desain game aksi bertema Jepang.

Onimusha memperkenalkan petualangan samurai yang memadukan pertarungan pedang, eksplorasi, teka-teki, dan atmosfer supernatural.

Sekiro kemudian menghadirkan pengalaman shinobi dengan mobilitas tinggi, sistem Posture, dan pertarungan yang sangat bergantung pada kemampuan membaca serangan lawan.

Meski berbeda, kedua permainan memiliki satu kesamaan penting: kemenangan terasa memuaskan ketika pemain benar-benar memahami mekanismenya.

Onimusha mengingatkan kita pada masa ketika game PS2 mampu menciptakan dunia berkesan melalui keterbatasan teknologi. Sekiro memperlihatkan bagaimana teknologi dan filosofi desain modern dapat menghasilkan pengalaman duel yang lebih kompleks.

Pada akhirnya, perkembangan game samurai bukan tentang mengganti formula lama dengan formula baru, melainkan memperluas cara pemain merasakan ketegangan, keberanian, dan kepuasan dalam pertarungan.

Temukan lebih banyak pembahasan game klasik, nostalgia PlayStation, dan sejarah perkembangan video game di NostalgiaGaming.online.

Artikel Yang Mirip

Artikel Yang Dirimu Mungkin Suka

Artikel Edisi Gan

KOMUNITAS NOSTALGIA

0 Komentar

Bagikan pengalaman dan kenangan gaming kamu di sini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi cerita!

Tinggalkan Komentar

Punya kenangan seru? Ceritakan di bawah dengan bahasa yang sopan.